kisah raja dan brahmana

Pada suatu kali pada masa tentram, putra seorang brahmana dan putra seorang raja dikirim ke padepokan seorang bijak agung untuk belajar. Disini mereka menghabiskan bertahun – tahun belajar bersama, menjadi sahabat karib dan ketika sudah tiba saatnya mereka harus pulang ke rumah masing – masing, mereka menangis.

Kata sang pangeran kepada teman sekamarnya, Drona, “Aku tidak akan pernah melupakanmu. Datanglah padaku saat aku sudah menjadi Raja Panchala, dan semua yang kumiliki jua akan menjadi milikmu.”

Sang brahmana memeluk sang pangeran dan berkata, “Drupada sayang, persahabatan lebih berarti bagiku daripada semua kekayaan dalam khazanah harta para dewa. Akan kusimpan kata – katamu dalam hatiku selamanya.”

Masing – masing pergi, sang pangeran belajar untuk belajar tata cara istana, sang brahmana untuk belajar lebih lanjut pada Parasurama, sarjana – pejuang yang tersohor. Dia menguasai seni perang, menikahi wanita yang bijak dan mempunyai anak laki – laki tampan. Meskipun miskin ia bangga akan pendidikannya dan menanti – nanti masa ketika ia akan mengajarkan semua ilmu pada anaknya.

Sampai suatu hari si anak pulang bermain dan meminta susu. Sebelumnya ia bertanya pada ibunya, “Ibu, susu itu apa? Kata teman – temanku susu itu berkrim dan putih dan mempunyai rasa manis sekali, nomor dua sesudah minuman para dewa? Tolong ibu aku ingin minum susu.”

Si ibu yang terlalu miskin untuk membeli susu, mencampurkan sedikit tepung dengan air, menambahkan gula palem dan memberikannya pada si anak.
Anak itu meminumnya dan menari – nari kegirangan sambil nerkata, “sekarang aku juga thu bagainmana rasanya susu!”

Dan si ibu yang sepanjang hidupnya penuh kesengsaraan belum parnah menangis, sekarang menangisi kepercayaan anaknya dan penipuan yang telah dilakukannya sendiri.

Seorang pangeran muda mewarisi kerajaan yang kisruh, istana penih intrik, warisan dari raja yang puas dengan dirinya sendiri, yang terlalu percaya pada kalangan bangsawannya. Sesudah banyak perselisihan dan pertumpahan darah, setelah putranya berhasil memantapkan kekuasaannya atas kaum bangsawan yang sama, ia berjanji pada dirinya sendiri takkan mengulangi kesalahan ayahnya. Ia memerintah dengan baik tapi waspada, lebih bersahabat dengan keadilan daripada belas kasihan. dan ia selalu mendengarkan bisikan dan tertawa mengejek, yang baginya merupakan pelopor pemberontakan.

Suatu hari, ketika raja sedang menerima tamu – tamu, seorang brahmana masuk ke balairiung dan berdiri di hadapannya. Raja terkejut melihat bahwa meskipun pakaiannya compang – camping, laki – laki itu tidak tampak seperti seorang pengemis. Dia berdiri tegak seperti nyala api, kepalanya terangkat tinggi, amatanya bersinar – sinar seperti batu akik. ingatan yang sudah terpendam setengah muncul dalam pikiran Raja, lalu terbenam lagi. Di sekelilingnya ia bisa mendengar gumaman, anggota – anggota istana bertanya – tanya siapa orang asing itu. Raja memerintahkan seorang penasehat membawa orang asing itu ke ruang khazanah, dimana setiap hari hadiah – hadian diberikan kepada kaum miskin, tetapi si brahmana mengibaskan tangan laki – laki itu.

“Drupada,” katanya, suaranya bergetar di seluruh balairiung, “Aku bukan pengemis! Aku datang untuk menagih janjimu sebagai sahabat. Kau pernah memintaku datang dan tinggal bersamamu, bahwa semua yang kau miliki akan menjadi milikku juga. Aku tidak menghendaki kekayaanmu, teta[i aku meminta kau memberi tempat di istanamu. Kau akan mendapat banyak manfaat dari ini, karena aku akan berbagi denganmu ilmu perang yang diajarkan guruku padamu. Tidak akan ada musuh yang berani mendekati Panchala dengan aku di sisimu.”

Sepeti halilintar, sebuah gambaranterukir pada kelopak mata Raja, dua anak laki – laki saling berpelukan, menyeka air mata ketika mereka mesti berpisah. Nama yang sudah lama dan ia sayangi, ada di ujung lidahnya: Drona. Tetapi di belakang Raja, orang – orag tertawa, menunjuk si brahmana sinting — pasti dia karena sudah berbicara kurang ajar kepada Raja!

Kalau drupada mengakui mengenalnya, kalau ia turun dari panngung singgasana dan memegang tangan si brahmana, apakah orang – orang akan menertawakannya? Apakah mereka akan menganggapnya lemah dan tidak realistis, tidak pantas memerintah?
Dia tidak bisa mengambil resiko itu.

“Wahai brahmana,” dia berkata tegas, “Bagaiman orang terpelajar seperti dirimu membicarakan hal konyol seperti itu? Apa kau tidah tahu bahwa persahabatan hanya mungkin terjadi pada dua orang yang sederajat? Pergilah ke pintu ruang khazanah, dan penjaga gerbang akan memastikan kau menerima sedekah cukup untuk kau hidup nyaman.”

Drona menatap raja sesaat, Drupada merasa melihat tubuhnya gemetar saking marah dan tidak percaya. Drupada menguatkan dirinya, mengira si brahmana akan berteriak, mengutuknya mungkin seperti yang biasa dilakukan oleh para brahmana. Tetapi Drona hanya membalikkan badan dan pergi. diantara anggota – anggota istana yang ditanyai kemudian tak seorangpun tahu kemana dia pergi.

Selama berhari – hari, berminggu – minggu bahkan berbulan – bulan, Drupada tidak bernafsu makan. Penyesalan melapisi mulutnya seperti lumpur. pada malam hari, berbaring tanpa bisa tidur, ia mempertimbangkan untuk mengirim kurir ke seluruh penjuru negeri, secara rahasia, untuk mencari sahabatnya itu. tetapi pada pagi hari hari gagasan itu selalu kelihatan bodoh.

Waktu adalah penghapus besar, baik kesedihan ataupun kegembiraan. Sesudah sekian lama insiden itu mengabur dalam ingatan Drupada. sesudah sekian lama, ia menikah dan menjadi ayah dari banyak anak, meskipun tak ada yang menjadi pejuang berbakat seperti yang diharapkannya. para bangsawan tua yang suka memberontak, sudah meninggal atau pulang ke desa asalnya masing – masing. para bangsawan baru menghormatinya atau takut kepadanya, sehingga Drupada yakin dirinya aman. Baginya ini sama dengan kebahagiaan.

Sampai pada suatu fajar, sebelum matahari terbit, Raja terbangun oleh para pengawal di atas tembok istana yang membunyikan terompet mereka. pasukan Korawa sudah berada di depan gerbang Kampilya/

Drupada bingung. dia tidak berhubungan dengan marga Korawa, yang kerajaannya berada di sebelah barat laut, di Hastinapura. Dari apa yang didengarnya, Dretarastra orang yang tenang dan ahti – hati. mengapa mau menyerangnya tanpa provokasi? Dia mengumpulkan pasukannya sendiri yang hebat, dan ketika dia maju menghadang para penyerang, kebingungannya makin bertambah ketika dia tahu para pemimpin serangan masih remaja – para pangeran Korawa, ia menyimpulkan. Kebodohan apa yang mendorong mereka? Mudah sekali mengalahkan pasukan mereka. tetapi ketika dia memutar balik keretanya dalam kemenangan, sebuah kereta baru menghampirinya, bergerak begitu cepatsampai sia tidak tahu dari mana arah datangnya. Anak – anak panah melesat dari kereta itu, membuat gelap seluruh langit, memisahkan drupada dari pasukannya dan menyebabkan kuda – kudanya ketakutan. Sebelum kusir keretanya bisa menenangkan mereka, seorang pemuda melompat dari kereta lain ke kereta Drupada. Pedangnya ditempelkan ke leher Drupada.

“Kami tidak ingin melulaimu,” kata si pemuda. “Tetapi kau harus ikut bersama – sama saudara – saidaraku dan aku sebagai tawanan.”

Meskipun terancam bahaya maut, mau tidak mau Drupada mengagumi pemuda itu. ketenangannya, sikap sopannya, ketrampilannya berperang. Sekilas timbul kerinduan di dalam hatinya : seandainya dia putraku.

“Siapa kau?” tanya Drupada. “dan mengapa kau menyerangku sementara aku tidak bermusuhan denganmu?”
“Aku Arjuna, putra mendiang prabu Pandu,” kata si pemuda, “Kau kutangkap atas permintaan guruku.”
“Siapa gurumu?”
Kilatan cinta dan rasa banggga membuat Arjuna bersinar – sinar. “Dia guru paling hebat dalam siasat perang. Dia mengajari kami para pangeran selama bertahun – tahun. Sekarang pelajaran kami sudah selesai, dan untuk dakshina dia meminta kami menangkapmu. Kau pasti kenal dia. Namanya Drona.”

Seorang raja dipaksa berlutut di hadapan seorang brahmana.
Sang brahmana berkata kepada Raja, “Negerimu dan hidupmu adalah milikku. Siapa yang sekarang menjadi pengemis?”
Raja berkata, “Bunuhlah aku, tetapi janga ejek aku.”
Sang brahmana berkata, ” Tetapi aku tidak ingin membunuhmu. Aku ingin menjadi temanmu. dan karena kau mengatakan persahabatan hanya bisa terjadi diantara dua orang yang sederajat, aku membutuhkan kerajaan. Sekarang akan kukembalikan separuh tanahmu. Di selatan Sungai Gangga kau akan memerintah. bagian utara milikku. Bukankah dengan begitu kita benar – benar sederajat?”

Sang brahmana memeluk raja, Raja memeluk sang brahmana. Dan kemarahan yang dibawa sang brahmana, yang membara di dalam dirinya selama bertahun – tahun, meninggalkan tubuhnya dengan embusan napas yang berbentuk uap gelap, maka diapun merasa tentram. tetapi raja melihat uap itu dan tahu apa artinya itu. Dengan penuh semangat ia membuka mulutnya dan menelan uap itu. Maka uap itu membakar hatinya selama sisa hidupnya.

Apa yang dimulai dengan susu akan berakhir dalam darah.

Sang raja dalam hal ini adalah Drupada, ayah dari Panchali (yang dikenal dengan Dropadi) yang menikah dengan lima laki – laki dalam waktu yang bersamaan (para pandawa), sementara sang brahmana adalah pendeta Drona guru ilmu perang bagi para pangeran Korawa dan Pandawa.

dikutip dari : The Palace of Illusions by Chitra Banerjee divakaruni, my indian female fav author …. yang melihat kisah Mahabharata daru sudut pandang wanita, dalam hal ini adalah sudut pandang Dropadi

tumblr_koqbzrKkZe1qzr8sno1_400

Advertisements

4 thoughts on “kisah raja dan brahmana

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s