Noi Himura’s Fave Books … (Freedom ….!!!!)

Membaca adalah salah satu hobby saia selain tidur. Walaupun sekarang ini pola membaca saia banyak berubah dibandingkan dulu ketika saia masih duduk di bangku SMA dan kuliah. Dulu antara saia membaca buku dan beli buku lebih cepat membacanya sedangkan sekarang kebalikannya saia lebih banyak membeli buku dan hanya membaca satu atau dua judul yang menarik perhatian saia. Penulis dalam negeri favorit saia adalah Umar Kayam, Romo Mangunwijaya, Pramudya Ananta Toer, Ahmad Tohari, Suparta Brata, NH Dini dan masih banyak yang lainnya .

Romo Mangunwijaya membuat saia jatuh cinta setengah mati pada 2 karya beliau : Burung – Burung manyar dan Burung – Burung Rantau ketika saia duduk di kelas 2 SMA. Romo mangun yang seorang arsitek sekaligus pastor (saia selalu merasa 2 sisi agamis dan teknis berpadu dalam diri beliau seperti halnya tokoh Leonardo Vetra dalam buku The Da Vinci Code karya Dan Brown) telah memanjakan saia dengan gaya bahasa beliau yang lugas, terus terang, apa adanya serta beliau bisa menyampaikan hal tentang hubungan pria dan wanita tanpa terkesan cabul ketika saia membacanya. Dua tokoh favorit saia dalam Burung – Burung Manyar : Raden Ayu Larasati (kok ya panggilannya Atik) dan Raden Mas Setadewa (yang ini malah panggilannya mas Teto) seorang campuran Indo Belanda dengan ayahnya yang berdarah jawa ningrat tapi sikapnya serba belanda dan ibu yang belanda totok tapi sangat jawa, beserta dengan kisah cinta mereka yang mengharukan, untuk pertama kalinya saia mengetahui bahwa cinta itu tidak harus saling memiliki. Saia bahkan membuat resensi buku tersebut sebagai tugas akhir kelulusan SMA saia.

Pak Kayam menarik saia dengan guyonan – guyonan sepanjang masanya saat pertama kali membaca karya beliau : Tertralogi Mangan Ra Mangan Kumpul (menemukan di perpustakaan sekolah, tepatnya). Beliau banyak menggunakan istilah2 Jawa yang selalu membuat saia tertawa, misalnya saja mengganti istilah in the rush menjadi to the milk untuk istilah bahasa inggris dari terburu- buru karena diplesetkan dari bahasa jawa kesusu. Menghapal mata uang negara lain yang ketika sampai ke mata uang negara Jepang akan menjadi yen, yen, yen, yen ing tawang ana lintang, yang adalah salah satu lagu jawa yang akrab di telinga saia karena sering diputar di RSPD (Radio Siaran Pemerintah Daerah) di Kabupaten saia.

Saia mulai membaca karya lain beliau seperti : Para Priyayi, Jalan Menikung (Para Priyayi II), Seribu Kunang – Kunang di Manhattan , Lebaran di Karet dan lainnya. Selain guyonan tersebut saia mendapatkan banyak hal dari buku – buku beliau. Misalnya saja dalam Para Priyayi yang saia dapat adalah : ngenger (ikut numpang hidup di rumah orang lain meskipun saudara guna menuntut ilmu) itu tidak mudah. seperti halnya Lantip (tokoh sentral dalam Para Priyayi) yang ngenger di keluarga besar Sastrodarsono dari usia dini sampai dewasa. Saia selalu membandingkan diri saia dengan Lantip.

Lantip yang berhasil bahkan diya mengabdi pada keluarga tersebut sampai ketika dia sudah berumah tangga dan hidup mapan, sedangkan saia? Saia gagal 100% ketika ngenger dirumah saudara saia guna meraih gelar sarjana S1 saia. Dalam rentang waktu 3 tahun 8 bulan pencapaian gelar sarjana saia, saia hanya 3 tahun bertahan ngenger sesudahnya saia nangis guling – guling di lantai minta pada mamak saia supaia saia bisa kost. Walaupun saia musti kuliah sambil kerja dan mengencangkan ikat pinggang saia sampai seukuran boneka barbie untuk berhemat. Seenak – enaknya ikut orang tentu saja masih enak ikut orang tua sendiri. Saia bukan Lantip yang penuh kesabaran dan nrima akan semua hal yang diterimanya pada masa ngenger (pengabdiannya) yang jauh lebih lama dibandingkan saia di keluarga Sastrodarsono.

Selain itu dalam Para Priyayi pak Kayam juga memberikan alasan yang sederhana dan lugas tentang percintaan beda agama. Ketika anak kedua Mbah Sastro darsono yang muslim (meskipun abangan) Raden Mas Hardoyo jatuh cinta dengan dhek Ninuk seorang guru SD yang adalah seorang Katholik taat. Cinta mereka diujung tanduk ketika kedua keluarga menentangnya. Keluarga Hardoyo ngotot tidak mau anaknya menikah dengan gadis berbeda agama. Mbah Sastro berkata : “ngger kamu ini Islam, disunat selayaknya kamu cari jodoh yang seagama pula”, beliau juga menentang jalan keluar pernikahan di catatan sipil yang diajukan keduanya.

Keluarga dhek Ninuk juga sama, mereka tidak merelakan putri mereka menikah dengan pria non_Katholik, mereka meminta Hardoyo masuk Katholik dan dipermandikan. jalan buntu tersebut membuat Hardoyo terbersit untuk mengambil jalan pintas. Diya berpikir jika mereka sudah terlanjur melakukan hal tersebut apa yang bisa dilakukan keluarga mereka berdua selain merestui hubungan mereka , dan Ninuk pun mengamininya.

Entah mengapa malam itu mereka berdua mengurungkan niat tersebut. mereka hanya terdiam membisu dan Hardoyo mengantar Ninuk pulang. Ketika berpisah Ninuk berkata : “terima kasih atas semuanya, mas …”. Hardoyo pulang dengan hati hancur dan menangis di pangkuan budhenya. Budhenya Sumini tanpa banyak bicara karena mengerti betul apa yang dirasakan keponakan tercintanya hanya berkata : “Yok. ayo temani budhe sholat …!!” dan itulah pertama kalinnya Hardoyo seorang muslim, yang disunat tapi abangan seperti kebanyakan orang jawa pada umumnya sholat, bersujud minta ampunan kepada Gusti Allah atas semuanya.

Dalam sholatnya dia memndapatkan pemikiran yang membantunya lebih mengikhlaskan Ninuk yang batal menjadi istrinnya. dalam benaknya dia berkata : ” saia ini muslim walaupun berpuasa saia tidak pernah sholat, mengaji, dan kewajiban lainnya dengan kata lain saia masih berhutang banyak hal terhadap agama saia, agama yang saia peluk sejak saia lahir. bagaimana saia menganut agama lain jika terhadap agama yang saia anut sejak kecil saia masih banyak berhutang sudah pasti saia akan berhutang lebih banyak lagi dengan agama baru yang saia anut nanti jika saia bersedia menganut agama sesuai dengan Nunuk.” Raden Mas Hardoyo akhirnya menemukan tambatan hatinya pada Sumanti, yang adalah muridnya walaupun hatinya masih deg2an ketika tanpa sengaja melihat Nunuk naik dokar .

Bagian ini adalah bagian terbaik dalam novel Para Priyayi dan memberikan pelajaran berharga bagi saia untuk lebih berhati – hati dalam menaruh hati pada seseorang. Maksud dari berhati hati dalam hal ini adalah menaruh hati pada orang yang tepat, berkeyakinan sama, karena seperti halnya Hardoyo, saia juga masih berhutang pada agama saia karena meskipun muslim saia tidak terbiasa mengucapkan salam ketika masuk rumah. menerima telepon juga saia lebih terbiasa berkata hello ketimbang assalamu alaikum, atau terbiasa berkata Kula Nuwun (permisi dalam bahasa Jawa) ketika bertamu ke rumah tetangga. saia juga belum memakai jilbab, saia semakin jarang mengaji yang membuat saia tambah ngos – ngosan ketika ikut tadarus setiap malam di bulan Ramadhan ini. dulu guru ngaji saia pasti akan memukul tangan saia dengan penggaris kayu jika saia membca ngos – ngosan seperti sekarang.



saia masih tergila – gila pada seorang pria cantik dari negeri sakura bernama Yasunori Hayashi yang entah mengapa telah mengobati luka di hati saia karena cinta buta saia pada tetangga sebelah yang ternyata bertepuk sebelah tangan. intinya hutang saia masih banyak, sehingga Pak Kayam seperti berpesan pada saia :”seng ati – ati mbak Noi, eling utangmu’

Tapi kadang saia merasa buku ini dan karya pak kayam lainnya sangat jawa karena banyak berisi guyonan2 jawa yang bikin saia tertawa setiyap kali saia membacanya tapi tidak demikian pula halnya bagi teman saia yang notabene anak jakarta. Meskipun saia jelaskan artinya dia tetap tidak merasa guyonan tersebut lucu dan menganggap buku tersebut biasa saja.

Saia mulai mengenal Suparto Brata ketika membaca Trilogi Kerajaan Raminten, Raminten istri seorang prajurit KNIL yang mengembangkan kerajaan bisnis perkreditannya hanya berdasarkan ingatan saja karena diya buta aksara. hebatnya dia ingat dengan jelas siapa saja yang telah berhutang padanya serta masa jatuh temponya. Novel ini menceritakan bagaimana rakyat Indonesia yang sudah terlena dalam penjajahan Belanda selama 350 tahun dan mereka merasakan hal yang aneh setelah merdeka. Mereka cenderung berpikir masa penjajahan Belanda lebih enak, aman, nyaman dan terjamin. Hal ini memang tidak masuk akal tapi terjadi, bahkan sampai sekarang pun kita masih menggunakan tata cara (adanya guling di tempat tidur, serta pengaturan tata letak piring, sendok di meja makan, setiap rumah ada 2 kamar mandi utama dan untuk pembantu) dan istilah belanda (spoor, pit, verleigh, huilen). Nenek tua sebelah rumah saia yang berpendidikan belanda selalu berteriak niet huilen ….!! setiap mendengar anak kecil menangis.

Raminten dan keluarganya mengalami masa peralihan dari penjajahan Belanda, Jepang serta kemerdekaan. Putri tertuanya Teyi yang beruntung mendapatkan pendidikan membaca dan menulis dalam bahasa Belanda dari Putri Parasi, seorang putri kraton Surakarta yang mengikuti suaminya bertugas sebagai perwira KNIL di pedalaman Sumatra. Buku ini menceritakan juga perjalanan Raminten dan dua orang putrinya mengungsi kembali ke tanah leluhurnya Jawa serta pencarian Teyi akan cinta sejatinya si pangeran dari Kraton Surakarta.

Saia kurang begitu suka karakter Teyi yang selalu memandang remeh orang lain hanya karena dia mampu menulis dan berbahasa Belanda, serta penolakannya terhadap suaminya karena diya sudah jatuh cinta dengan pangeran dari solo tersebut. seharusnya dia tidak perlu menikah jika dia tidak mau. Inilah yang saia benci pada tokoh utama wanita di setiap novel atau film, they always say no at the D day. Cerita akan berakhir dengan larinya sang pengantin wanita dari altar, atau mengalahnya sang pengantin pria demi wanita yang dicintai untuk bersama dengan lelaki lain, dengan dasar pemikiran cinta tidak harus saling memiliki. film India fave saia Kuch Kuch Hotta Hai yang selalu sukses membuat saia menangis juga ada adegan dimana Salman Khan menyeret Anjeli (Kajol) instead of drag her to marry him eh kok malah dibawa ke Shah Rukh Khan. aish i hate that….!!! even i love SRK so much ….

Bulan Agustus ini saia membaca karya beliau yang lain berjudul Republik Jungkir Ballik, dari judulnya kita tahu jika buku ini bercerita tentang jaman peralihan , penjajahan Jepang, Belanda dengan Perjanjian Linggarjatinya, kemerdekaan serta pengungsian yang menyertainya. Perjuangan manusia untuk tetap mempertahankan kelangsungan hidup atau memilih menyerah karena memegang tegus nilai – nilai kebenaran nurani.



Buku ini menceritakan dua keluarga yang bertemu di Kota Angin Probolinggo. Keluarga Kartidjo dan Saputra.

Kartijo, seorang jawa tulen kelahiran Surakarta. ibunya adalah salah satu putri bangsawan terkemuka yang menikah dengan ayah yang seorang guru sekaligus bangsawan pula. ketika ayahnya meninggal, ibunya diambil sebagai istri muda oleh seorang bangsawan lain yang membuat Kartijo selalu diperlakukan tidak adil di rumah oleh saudara – saudara tirinya. Sehingga ibunya demi anak tunggalnya memutuskan Kartijo bersekolah di sekolah asrama Broederan Belanda. Kartijo yang selalu kesepian akhirnya menjadi seorang teknisi radio yang bekerja di perusahaan radio Belanda dan menikah dengan perempuan bangsawan pilihan ibunya sebagai tanda baktinya.

Istrinya seorang wanita Jawa tipe wanita suargo nunut neraka katut (ke surga ikut, ke neraka juga terseret), ikut tinggal bersama suaminya di Surabaya. meraka hidup tenang di Surabaya bahkan ketika penjajahan Jepang dimana semuanya merasakan jaman Jepang adalah jaman paling susah karena penjajah Jepang menerapkan hidup hemat dengan alasan kita masih dalam keadaan perang, tapi keluarga Kartijo masih hidup dengan nyaman. Kartijo bekerja di bengkel radio milik Jepang, saat itu teknisi radio tidak banyak ditemukan. 3 anak mereka mengalami masa kanak2 yang manyenangkan.

Ketika terjadi perang, mereka sekeluarga mengungsi ke Probolinggo untuk memulai hidup baru, karena Kartijo tidak mau kembali ke Solo seperti kemauan istrinya. ia benci Solo, benci keluarganya. Kartijo yang nasionalis, selalu mendengarkan berita2 dari radio luar negeri, mulai berpikir dia adalah orang teknik, yang menggunakan otak yang sudah sepantasnya berbuat sesuatu bagi negeri ini. dengan cara apa? dengan cara menolak semua barang yang berbau Belanda meskipun mereka sekeluarga kelaparan. mereka sekeluarga sama kecuali Nyonya Kartijo yang masih berkeinginan kembali ke Solo, ke rumah kratonnya.

anak2 mereka : Eka si sulung yang tidak begitu pintar dan selalu tidak naik kelas bahkan rajin mengikuti pelatihan perang yang diadakan tentara republik.belajar bagaimana menggunakan pistol, melempar granat. melempar pisau dan menggunakan bambu runcing untuk menyergap tentara belanda di malam hari atau merampas senjata mereka.

Siti anak perempuan satu2nya gigih minta pada ayahnya agar diijinkan ikut bergabung dalam kelompok gerilyawan dengan alsan diya bisa membantu merawat para pemuda pejuang yang terluka di medan perang, padahal itu hanya alasannya supaya bisa berdekatan dengan Joko Susanto teman sekolahnya dulu yang aktif bergerilya melawan Belanda. hal ini mengingatkan saia pada lagu perjuangan yang berjudul Kopral Jono …. (romansa kisah cinta seorang gadis dengan seorang pejuang yang bernama Jono, berpangkat kopral), … hee cuman kopral, kenapa bukan letnan atau kapten? ….. Kopral selalu mengingatkan saia pada si bodoh Upham di film Saving Private Ryan, saia tidak akan jatuh cinta pada kopral, hei i am gonna make love with the cool sniper Kapten Jackson (he is my fave sniper di semua film perang, kapten pula)

Edi anak bungsu yang paling pintar diantara 3 bersaudara, edi yang pandai ilmu ukur, hapal semua isi perjanjian Linggarjati, sejarah perancis sampai dengan runtuhnya kekuasaan Napoleon Bonaparte, suka membaca Victor Hugo dan Alexandre Dumas serta suka menyanyi Juwita Malam. Edi terperangkap dalam jerat cinta Sumini si wanita bekas kupu – kupu malam istri Saputra yang ditahan Belanda. Edi yang masih perjaka mendapatkan pengalaman pertama dari Sumini yang berpengalaman. Setiap selesai edi akan berkata : ” maafkan saia mbakyu, saia seharusnya tidak berbuat demikian, ini tidak benar saia bersalah pada Mas Saputra”

dan Sumini akan menjawab : ” tidak apa2 dhik Edi, ini bukan salahmu. hal ini wajar karena kau adalah laki – laki dewasa, jangan pernah menyesali hal ini karena aku juga menikmatinya. jangan perdulikan ini apakah ada perasaan cinta atau tidak. tetaplah bersamaku malam ini dan aku tidak ingin malam ini cepat berakhir”

they did that over and over …… *whussshhh*

this one remain me of ABC song Black Cherry : “Black Cherry..nurete ochite watashi no naka e tane wo nokoshite! aisanakute

ii yo …aishitenai kara konna ni mijime ni shite! (Black Cherry…make love to me, give yourself to me You have to leave your seed to be reborn inside of me… It’s all right if you don’t love me…since I don’t love you Don’t make me more wretched than this…)

Keluarga Saputra terdiri dari Saputra dan istrinya Sumini. Saputra seorang tukang catut (makelar) gula di gudang2 china, seorang lelaki malam yang bertemu dengan Sumini seorang kupu – kupu malam dari lokalisasi Kampung Teres. Saputra yang berkunjung setiap hari ke tempat itu dan hanya mau dengan Sumini seorang. Dia bahkan mau menunggu jika Sumini sedang ada tamu, dia tidak marah pada laki2 yang mendahuluinya karena dia sadar Sumini itu pelacur yang sedang bekerja.

Malam2 mereka bersama membuat Saputra makin jatuh cinta pada Sumini, kadang mereka hanya bicara tanpa melakukan hubungan intim. meraka berbicara, bercerita dari hati ke hati. Selayaknya profesional, Saputra tetap membayar, tapi Sumini tidak kalah profesionalnya lagi dia menolak bayaran tersebut dengan alasan saia tidak melayanimu malam ni, jadi kau membayar buat apa. Mereka berbicara jauh tentang masa depan dan akhirnya memutuskan menikah.

Lelaki malam menikah dengan kupu – kupu malam membentuk rumah tangga impian mereka yang harmonis, mereka pindah ke lingkungan orang baik2 dan bergaul dengan orang baik2 pula. bertetangga dengan Kartijo yang nasionalis membuat Saputra berkeinginan untuk melakukan sesuatu bagi bangsanya walaupun diya cuma seorang tukang catut. Dengan cara membantu para gerilyawan memasok kebutuhan mereka serta mencari informasi. Ketika Belanda mengetahuinya, Saputra ditangkap.

Maka tinggallah Sumini sendirian. karena dianggap tidak aman untuk seorang wanita tinggal sendirian, maka Kartijo menyuruh anak bungsunya Edi menemani Sumini tiap malam. Edi yang sedang masa puncak akhil balik malah menemukan pelajaran bercinta dari Sumini yang lebih pantas sebagai kakaknya. Mereka berdua mengesampingkan perasaan cinta yang ada dalam diri masing2. Cinta Sumini pada suaminya dan Edi apada Atikah teman masa kecilnya yang sekarang sudah menjadi nyonya muda petinggi kampung mereka Mangunharjo.

Sumini yang akhirnya menjual diri pada tentara Belanda yang menahan suaminya demi bisa menyambung hidup serta bertemu dengan suaminya setiap hari. Kupu – kupu malam itu kembali melacur atas nama cinta dan kebaktian pada suaminya. akhirnya berkat hubungannya dengan para serdadu tersebut, suaminya dibebaskan. Mengetahui istrinya malecur lagi,Saputra marah dan mencekiknya. Untung ada edi yang membelanya dan diya memberikan alasan yang membuat Saputra memafkan istrinya dan menyadari itu bukan kesalahannya.

sebenarnya mengapa Edi berbuat demikian? tiada lain dan bukan karena rasa bersalahnya pada mas Saputra tetangganya yang baik hati karena telah tidur dengan istrinya …..

Buku ini berisi jalinan konflik diantara 2 keluarga tersebut yang semakin berliku dengan adanya tokoh Wak Abang mata2 Belanda, carik yang ditusuk bambu runcing malam2 oleh gerilyawan karena menjadi informan Belanda serta Ali yang mati karena mau melamar Siti, Atikah yang cinta mati pada Edi walaupun diya sudah bersuami, serta bagaimana tidak seimbangnya persenjataan antara pihak gerilyawan dengan senjata rampasan jaman pendudukan Jepang yang selalu panas setiap habis dipakai dan musti disiram air supaya dingin. Karena di medan peperangan sulit mencari air maka mereka satu persatu mengencingi senjata tersebut, bisa dibayangkan bagaimana bau pesing dan berkarat senajata itu karena terlalu banyak disiram air kencing, dibandingkan dengan persenjataan belanda yang baru serta jip2 patrolinya

Walaupun demikian mereka tetap berusaha supaya lepas dari penjajahan …. Sekali Merdeka, tetap Merdeka ….!!!!!!

Advertisements

2 thoughts on “Noi Himura’s Fave Books … (Freedom ….!!!!)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s